Showing posts with label Teknologi. Show all posts
Showing posts with label Teknologi. Show all posts

Thursday, January 10, 2013

Kuliah? Video Conference Saja

Seiring waktu semakin sempit dirasa, kita selalu ingin melakukan segalanya di tempat. Untuk kuliah, para mahasiswa di beberapa universitas di Indonesia, seperti IPB, Universitas Hasanuddin, ITB, dan Universitas Sriwijaya menggunakan salah satu cara perkuliahan yang memakai prinsip itu. Ya, mereka menggunakan video conference untuk berkomunikasi dengan dosen mereka.

Video conference sedang gencar digunakan. Apa saja yang terlibat dalam video conference itu?

Video conference adalah salah satu teknologi komunikasi yang memungkinkan kita berkomunikasi dengan orang lain di tempat yang jauh dengan bertatap wajah. Teknologi inti yang digunakan dalam konferensi video adalah sistem kompresi digital audio dan video stream secara nyata. Pernah melihat video call? Video conference adalah hal yang serupa dengan itu. Bedanya, video conference biasanya melibatkan lebih banyak orang.

Contohnya yaitu dalam perkuliahan, dimana dosen sedang berada di suatu tempat yang jauh sehingga tidak dapat hadir di kelas. Dengan video conference, mereka bisa melaksanakan proses belajar mengajar layaknya dosen hadir di depan para mahasiswa.

Mahasiswa  menggunakan video conference untuk belajar dan berkomunikasi dengan mahasiswa di tempat lain
(sumber : http://now.dartmouth.edu/)






Ini komponen-komponen pendukung video conference

Untuk menyelenggarakan kuliah dengan video coneference, kita memerlukan perangkat seperti ini :

     1.   Screen dan Proyector

Screen dan proyektor ini digunakan untuk menampilkan wajah orang yang sedang berkomunikasi dengan kita. Screen ini diletakkan di depan kelas, seperti layar untuk presentasi.
  1. Kamera
Kamera ini digunakan untuk merekam gambar orang yang sedang berkomunikasi. Sehingga kita bisa tahu wajah, ekspresi, dan bahasa tubuh lawan bicara kita.

     3. Pengeras suara dan Mikrofon

Untuk berkomunikasi, suara kita harus terdengar oleh lawan bicara, dan sebaliknya. Jadi dibutuhkan mikrofon untuk berbicara dan pengeras suara untuk memperdengarkan suara kita ke lawan bicara. Di kelas perkuliahan, mikrofon bisa disediakan untuk masing-masing mahasiswa.
  1. Jaringan internet
Jaringan internet mutlak diperlukan, sebab merupakan media transfer data.
  1. Video table
Video table menampilkan yang dilakukan / ditulis peserta di atas mejanya. Dosen akan mengetahui yang dikerjakan oleh mahasiswanya dengan alat ini.

Ada yang baru

Pengembangan teknologi baru dari video conference adalah TelePresence. Teknologi ini menyempurnakan video conference. TelePresence meningkatkan kualitas gambar dan suara, serta perangkat. Selain itu, materi kuliah apapun, seperti bagan, grafik, dokumen atau alat-alat penting lainnya dapat dikirim dengan cepat dan mudah melalui sistem TelePresence. Tujuan dari TelePresence adalah untuk membuat peserta merasa seolah-olah mereka berada di ruangan yang sama seperti lawan bicaranya, meskipun diproyeksikan melalui internet.

Sistem Telepresence merupakan bentuk pengembangan secara konseptual yang revolusioner. TelePresence mengubah cara seseorang untuk melakukan komunikasi audio video dibandingkan sistem pendahulunya yaitu sistem video conference tradisional. Komponen tambahan yang mendukung TelePresence adalah telepresence server, studio room, dan beberapa perangkat lain.


Perubahan

Sudah saatnya teknologi-teknologi canggih itu digunakan secara luas. Beberapa universitas sudah menjadi pioneer. Kapan yang lain menyusul? Video conference dan TelePresence adalah bukti nyata perkembangan teknologi komunikasi di negeri ini. Sepantasnya kita manfaatkan juga untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, sebagai pendukung kemajuan pendidikan Indonesia.

Tuesday, January 8, 2013

The Power of Computer


“Teknologi diciptakan untuk memudahkan penggunanya.” Adagium itu mengingatkan betapa penting teknologi dalam menjalani aktivitas kehidupan sehari-hari. Komputer bukan lagi barang mewah. Kini, hampir setiap rumah di seluruh dunia memilikinya. Komputer telah berevolusi menjadi laptop bahkan sekarang telah berwujud tablet PC. 

Komputer telah digunakan di berbagai bidang seperti bidang pendidikan. Banyak software di dalam komputer yang bisa dimanfaatkan untuk menunjang kelancaran pekerjaan seperti software Ms. Word, Excel dan Access yang banyak dimanfaatkan oleh bagian administrasi sekolah atau perkantoran. 

Pemanfaatan software di dalam komputer di bidang pendidikan juga dilakukan oleh guru dan murid. Guru dapat menggunakan software Ms. Powerpoint untuk membuat presentasi mengenai materi ajar yang akan disampaikan dalam proses belajar mengajar di dalam kelas menggunakan media LCD dan proyektor. Sedangkan bagi murid, komputer atau laptop menjadi barang yang sangat penting dalam menunjang pendidikannya di sekolah. Tugas yang diberikan oleh guru di sekolah sering memanfaatkan komputer karena harus dikumpulkan dalam hardcopy (hasil printing) ataupun dikirim ke alamat e-mail guru. 

Lebih dari itu, komputer telah membuat penggunanya terutama para pelajar mendapatkan bakat baru yang potensial dengan memanfaatkan software yang ada. Mulai pelajar SMP hingga mahasiswa, banyak yang menemukan bakatnya melalui alat hebat ini. Inilah beberapa bakat potensial itu:

1. Desain Grafis

Memanfaatkan software Adobe Photoshop dan CorelDRAW, pengguna bisa memulai kreativitasnya untuk membuat suatu desain seperti logo, banner¸ poster, brosur, stiker dan sebagainya. Selama di SMA ini, bakat saya di bidang desain grafis menjadi lebih berkembang dan berguna dengan bergabung di beberapa organisasi di sekolah. Desain pertama saya adalah sebuah banner acara “Sepeda Djoeang” untuk memperingati Hari Kebangkitan Nasional oleh FPPI (Forum Pemuda Peduli Indonesia). Sejak saat itu, saya sering ikut bergabung dalam acara sekolah atau organisasi menjadi desainer grafis. Baru-baru ini, saya menjadi tim yearbook sekolah. Selain itu saya juga pernah mendesain web dan blog beberapa organisasi dan unit usaha. (bisa lihat disini : http://blog.alamfay.com/p/creation-track.html) .

Banner pertama saya. :)

Bakat desain grafis ini sangat potensial menjadi sebuah bisnis sukses seperti yang telah dilakukan oleh Yohanes Auri. Alumni Universitas Bina Nusantara jurusan Desain Komunikasi Visual ini telah sukses mendirikan perusahaan di bidang jasa desain grafis dengan omzet miliaran rupiah  yang diberi nama PT Flux Asia Solusindo atau disingkat Flux Design.

2. Programming

Berawal dari ekstrakulikuler ICT Programming yang ada di sekolah, saya mulai belajar dan mencoba membuat software sederhana dengan memanfaatkan software Visual Basic. Mulai dari kalkulator, biografi dan yang terbaru saya beri nama Basic Math Form. Software ini bisa digunakan untuk murid SD atau SMP tingkat dasar untuk menghitung hitungan bangun datar dan bangun volume hanya dengan memasukkan angka yang dibutuhkan. Untuk mendapatkan software ini, bisa download disini

Salah satu tampilan Basic Math Formula

Saya juga belajar web programming dengan bahasa HTML dan PHP. Untuk HTML, saya menggunakan software Ms. Frontpage dan Adobe Dreamweaver. Sedangkan untuk PHP, saya menggunakan CMS Joomla dan CMS Balitbang, yang merupakan CMS buatan Tim Balitbang Depdiknas (Badan Penelitian dan Pengembangan Departemen Pendidikan Nasional). Selain Visual Basic dan software Web Programming, masih banyak software pemrograman lain yang dapat digunakan untuk membuat software seperti NetBeans untuk Java, C++, SQL, Ajax, Delphi, Oracle, Ruby dan lain-lain.

3. Blogging

Blog adalah website yang simpel. Banyak penyedia layanan blog gratis seperti Blogger, Wordpress, Blogdetik, Blogsome dan lainnya. Pengguna blog, yang biasa disebut Blogger, biasa menggunakannya sebagai media untuk menulis sesuatu seperti curhatan kisah pribadi, tips-tips, info terbaru, hingga bisnis online.

Cinta Nge-blog (sumber : http://cdn4.aweber-static.com/)

Jika ditekuni, bakat menulis di blog dapat menghasilkan penghasilan dengan memasang iklan yang dapat didapatkan dari penyedia iklan online seperti Google Adsense, Adhitz, PPC Indo, Klik Saya, dan masih banyak layanan iklan lokal lain.

Selain itu, banyaknya lomba blog yang diselenggarakan oleh instansi Pendidikan maupun swasta membuat kreativitas dan inovasi para blogger lebih teruji. Seperti lomba blog tingkat SMP/Sederajat dan SMA/Sederajat se-Indonesia yang diselenggarakan oleh Ikatan Komputer SMAN 1 Kota Sukabumi. Acara ini merupakan rangkaian IT Festival 2013 untuk memeriahkan SMANSA EXPO Bulan Prestasi XXIV. Dengan tema “Peran Teknologi Dalam Meningkatkan Pendidikan Bangsa”, peserta menuangkan idenya dalam bentuk artikel dan desain blog yang menarik.

Komputer melahirkan berbagai bakat terutama bagi para pelajar. Pelajar bisa terus berkreasi dan berinovasi. Hal ini berpotensi melahirkan bisnis dan pekerjaan untuk orang lain di masa depan. Inilah, kabar baik dari generasi penerus bangsa.

Monday, January 7, 2013

Sekolah di Hogwarts Yuk!

Logo sekolah dan asrama Hogwarts (sumber : http://static.tumblr.com/)

Belajar di Hogwarts. Pasti itu terdengar seperti mimpi atau khayalan belaka. Sistem sekolah dan asrama yang asyik, sihir. Hogwarts adalah sekolah sihir buatan J. K. Rowling. Sekolah sihir hasil ciptaan penulis terkenal itu tertulis di salah satu novelnya, Harry Potter.

Baiklah, mungkin mudah mengadopsi sistemnya, sekaligus asrama dengan penyeleksian kelompok berdasarkan kepribadian siswa. Yang terdengar janggal adalah meniru sihirnya, yang merupakan imajinasi semata dari benak J. K. Rowling. Namun “sekarang” segalanya menjadi mungkin. Dengan sedikit adaptasi, semua sihir itu bisa digantikan dengan teknologi.

Pena bulu sihir ->  Software PSB
 
Sebuah pena bulu sihir di Hogwarts mampu mendeteksi kelahiran anak-anak ajaib dan menuliskan nama mereka ke dalam sebuah buku perkamen besar. Setiap tahun, seorang guru akan memeriksa buku ini dan mengirimkan surat kepada anak-anak yang segera mencapai usia sebelas tahun.

Tampilan awal CO-PSB 2.0 (sumber : http://i41.tinypic.com/)


Di dunia nyata kita bisa menggunakan CO-PSB 2.2, software aplikasi yang bisa digunakan untuk membantu memudahkan proses pendaftaran siswa baru. Software ini dilengkapi dengan proses penerimaan dan seleksi dan diproses langsung oleh komputer, serta dilengkapi dengan menu pembayaran dan tunggakan setelah siswa mendaftar dan diterima. Hasil seleksi didapat dengan mudah dan cepat serta tingkat akurasi yang tinggi.

Daily Prophet -> Plastic Logic
Kalau para murid Hogwarts berlangganan koran Daily Prophet, kita juga bisa berlangganan koran elektronik. Sebuah inovasi bernama Plastic Logic sangat sesuai bagi para pecandu surat kabar yang modern dan dinamis.
Plastic Logic untuk membaca koran digital

Plastic Logic adalah gadget pembaca koran elektronik yang tidak sebatas untuk membaca koran. Plastic Logic dapat menampilkan MS Word, Excel, PowerPoint atau PDF File. Bahan Plastic Logic ringan, lentur dan bisa ditekuk. Tampilannya sendiri cukup lebar, selebar 21.5 x 28 cm.

Plastic Logic mendukung wireless internet, jadi berita terkini secara otomatis akan di update ke gadget ini. Namun satu yang paling disayangkan, bahwa gadget ini tidak dapat menampilkan warna foto pada artikel. Diharapkan E-Ink technology (pengembang) dapat menambahkan fasilitas warna pada Plastic Logic generasi berikutnya.


Pena bulu Kutip Cepat -> Alat pengenal ucapan

Ingat di buku “Harry Potter dan Piala Api”? Ada tokoh bernama Rita Skeeter. Dia adalah wartawan yang memiliki pena bulu kutip cepat. Ketika Rita sedang mewawancarai narasumbernya, pena bulu ini secara otomatis menuliskan isi wawancara itu.

Manusia berbicara, software ini akan menuliskannya.

Teknologi speech-to-text atau alat pengenal ucapan menggantikan pena bulu ini. Speech-to-text merupakan software yang memungkinkan kita untuk memasukkan perintah kepada komputer, membuka file, dan membuat dokumen tanpa mengetik atau menggunakan mouse. Untuk menggunakannya, kita harus mempunyai PC berbasis Windows dengan mikrofon eksternal atau dictation-headset. Kita bisa menyelesaikan esai atau tugas yang rumit menggunakan software speech-to-text di rumah, sekolah, atau tempat kerja.

Banyak hal yang sebelumnya tak mungkin menjadi mungkin. Dunia sihir pun bisa kita adopsi ke dunia nyata. Dengan teknologi, Muggle (sebutan bagi bangsa non-penyihir) seperti kita tetap bisa merasakan kemudahan layaknya di dunia sihir. Jadi, masih ragu untuk bisa bersekolah di Hogwarts? Coba saja!

Sepuluh Triliun, Salah Jalan?


Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) mengeluarkan anggaran yang begitu besar untuk menjalankan kurikulum baru. Dikutip dari Okezone.com, salah satu anggaran yang disediakan adalah untuk pengadaan buku yang mencapai Rp 10 triliun. Namun, dana untuk pelatihan guru tidak dianggarkan.

Rasanya kurang seimbang. Pemerintah terlalu mengutamakan fasilitas-fasilitas saja tanpa memperkaya sumber daya manusia. Sudah begitu, dana sebesar itu hanya untuk buku. Di era modern ini, tidak cukup jika hanya mengandalkan buku.
Anggaran terlalu banyak untuk buku bertumpuk-tumpuk

Peralihan dari metode tradisional yang klasik menuju sistem modern dengan teknologi menuntut respon positif dari pelaku pendidikan. Di sini guru yang disorot sebagai pihak yang paling bertanggungjawab. Kurangnya pemahaman guru akan teknologi informasi sedikit banyak menghambat proses pembelajaran. Banyak ditemukan terutama di pedesaan, murid jauh lebih paham terhadap internet daripada gurunya. Padahal lebih baik andai mereka memanfaatkan internet secara optimal di bidang pendidikan, dengan bimbingan guru. Kalau tidak, bisa-bisa salah jalur. Contohnya saja seperti yang marak terjadi, pelajar menjadi korban penyalahgunaan internet. Jika guru gagap teknologi (gaptek), pendidikan Indonesia akan terus-menerus stagnan. 

Solusinya sudah jelas. Lebih baik jika besarnya dana yang membelalakkan mata itu dialokasikan untuk memeratakan pendirian tower-tower komunikasi. Diharapkan sinyal akan mudah dijangkau hingga perbatasan antar negara sekalipun. Sehingga dari Sabang sampai Merauke, dari Timor sampai ke Talaud, kita bisa mengakses internet. Beribu-ribu buku yang sebelumnya menjadi objek penganggaran dana sebesar 10 triliun dijadikan e-book yang kemudian didistribusikan melalui e-mail ke seluruh Indonesia. Keuntungan lain : penghematan kertas.
Setelah pengalokasian dana untuk internet, adakanlah pelatihan-pelatihan bagi guru-guru. Guru pun tidak boleh berpemikiran kuno. “Long Life Learning”. Waktu terus berjalan, zaman juga senantiasa berganti. Jika pemikiran tidak mengikuti, akibatnya guru-guru gaptek akan terus ada. Hal itu tidak sepantasnya terjadi. Semua usaha itu tidak lain tidak bukan adalah untuk meningkatkan pendidikan bangsa. Dengan sumber daya yang lengkap, niscaya proses pembelajaran akan berhasil sedikit demi sedikit.

Sepuluh triliun rupiah terdengar begitu mahal. Maka dari itu pengalokasiannya tidak boleh salah jalan. Memang rumit membayangan langkah-langkah penganggaran dana di atas. Namun lebih baik dimulai sekarang daripada menunggu nanti yang tak berbatas waktu.

Awas, Gadget untuk Anak!


Peran baby sitter sering diandalkan oleh sebagian besar orang tua yang memiliki kehidupan di kota dan sibuk bekerja, khususnya para ibu yang berkarir. Biasanya, baby sitter itu kurang memedulikan baik buruk fasilitas untuk anak asuhannya. Misalnya, jika pada saat balita menangis, kebanyakan baby sitter akan memberikan mainan untuk menenangkannya. Namun sayangnya mainan itu biasa berupa ponsel atau gadget yang kurang pantas dipegang balita. Gadget-gadget itu membuat si balita ketagihan dengan gambar dan musik yang menarik. Dia akan betah berlama-lama dengan gadgetnya dan tidak sempat mempelajari hal lain.

Sebenarnya ponsel tersebut hanya digunakan untuk memainkan lagu atau bermain game saja. Sekilas tampak tidak berbahaya. Namun sebenarnya ada dampak negatif yang mengiringinya. Tak ampun-ampun, efek sampingnya mengenai edukasi balita. Padahal lima tahun pertama manusia adalah saat terpenting yang akan memengaruhi perkembangan otak balita di masa depannya. Lalu apa bahaya penggunaan gadget seperti ponsel dan laptop itu?

Terlalu lama memainkan gadget, bahaya bagi balita (sumber : http://data.tribunnews.com/)
Selain radiasi dari gadget yang tinggi, perlu diwaspadai juga lambatnya perkembangan psikomotorik. Dikutip dari liputan6.com, sebuah studi baru menemukan jumlah anak-anak dengan kesulitan berbicara telah melonjak drastis sebanyak 70 persen dalam waktu enam tahun ini. Yang disalahkan atas meningkatnya jumlah ini adalah penggunaan gadget nyaman yang diberikan terlalu dini oleh para orangtua. Selain itu, kecenderungan orangtua yang bekerja keras dan menghabiskan waktu lebih sedikit dengan anak-anaknya. Teknologi termasuk televisi, playstation, smartphone, dan komputer, semakin banyak dipergunakan oleh anak-anak di waktu senggang.

Tak bisa dipungkiri, penggunaan gadget untuk balita mengurangi frekuensi komunikasi dengan orangtua. Akibatnya, timbul juga sikap acuh tak acuh akan kondisi sekitar. Hal ini buruk untuk proses sosialisasi anak. Berbeda sekali dengan saya atau generasi sebelum saya. Di usia balita, saya sering bermain dengan kakak dan teman-teman, dan berbicara dengan orangtua tentang apa saja. Bayangkan, betapa mengenaskan jika seorang manusia tidak memiliki kenangan yang indah dengan orangtuanya, meski di masa balita. Kasihan. Jangan sampai generasi penerus kita nanti seburuk itu.

Bagi para orangtua, disarankan untuk memperbanyak waktu bersama sang anak, setidaknya di lima tahun pertamanya. Selain itu, sebaiknya balita dibiarkan bersosialisasi dengan lingkungan sekitar yang baik. Orangtua hendaknya juga lebih selektif memberikan mainan ke balita.

Sunday, January 6, 2013

UKG Online, Solusi Pemerintah?


Masalah terbesar pendidikan terbesar di Indonesia adalah kualitas guru yang masih rendah. Entah apa yang sedang direncanakan pemerintah melihat kondisi pendidikan saat ini, namun pada kenyataannya pemerintah tampaknya tidak serius dalam menangani masalah pendidikan.

Dari sumber Republika Online yang memberitakan tentang peningkatan kualitas guru, telah dilakukan survei oleh Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) terhadap guru-guru di 29 daerah di Indonesia. Dari survei itu, didapatkan data bahwa 62 persen guru SD tidak pernah ikut pelatihan bahkan sampai menjelang pensiun.

Pelaksanaan UKG belum diiringi sarana dan prasarana yang baik (sumber : http://www.analisadaily.com/)

Minimnya pelatihan ini menunjukkan bahwa pemerintah tidak memikirkan peningkatan kualitas guru. Di tahun 2012, pemerintah melakukan Uji Kompetensi Guru (UKG) untuk meningkatkan mutu guru. Namun dalam pelaksanaannya yang dilakukan secara online banyak menimbulkan permasalahan terutama bagi guru yang berada di pelosok. Kurangnya pengetahuan tentang teknologi dan terbatasnya koneksi internet menjadi masalah utama.

Niat baik pemerintah ini sebaiknya juga selaras dengan persiapan sebelum dan pelaksanaannya. Pelatihan mengenai penggunaan komputer dan internet bagi guru-guru terutama yang berada di pedalaman sangat dibutuhkan agar dapat memperoleh hasil yang maksimal. Sementara masalah koneksi internet, Balai Penyedia dan Pengelola Pembiayaan Telekomunikasi dan Informatika (BP3TI) menargetkan pada tahun 2014 seluruh daerah di Indonesia sudah bisa mengakses internet. Hal ini menunjukkan bahwa UKG online yang telah dilakukan pemerintah sejak Agustus 2012 kemarin belum siap secara operasional keseluruhan.
Pemanfaatan teknologi internet oleh pemerintah untuk pelaksanaan Uji Kompetensi Guru tentu hal yang sangat baik dan bermanfaat jika sarana dan prasarana yang dibutuhkan tersedia dengan baik. Serta menjadi potensi bagi kualitas guru menjadi lebih meningkat.

Saturday, January 5, 2013

Teknologi, Revolusioner Wajah Pendidikan


Revolusi besar-besaran  terjadi di dunia pendidikan seiring berkembangnya teknologi di negeri ini. Motto “Dengan Teknologi, Hidup Menjadi Lebih Mudah” diterapkan untuk memudahkan proses belajar mengajar di sekolah-sekolah. Bahkan di kampung sekalipun, para siswa mulai dikenalkan teknologi informasi sejak di sekolah dasar. Jika melihat ke sekolah dan mencoba membandingkan dengan beberapa tahun lalu banyak perubahan yang terjadi. Berikut ini bukti nyata revolusi teknologi itu. 

Dengan Teknologi, Hidup Menjadi Lebih Mudah (sumber: tensa.alamfay.com)

1.  Sistem administrasi sekolah lebih mudah dikelola dengan komputerisasi. Fungsi pengetikan beralih dari mesin ketik ke komputer. Jenis komputer yang digunakan pun canggih. Pemerintah memberikan bantuan Personal Computer (PC) ke sekolah-sekolah di pelosok. Menurut beberapa sumber, disebutkan di Balikpapan, Kalimantan Timur, IBM (Internastional Business Machines) memberikan bantuan berupa empat IBM Kidsmart Young Explorer dalam rupa unit komputer berikut software beserta meja dan kursi anak-anak Little Tikes warna-warni. Komputer itu diletakkan di perpustakaan nasional Balikpapan. Software yang ada disebutkan dapat membantu anak-anak mempelajari dan menjelajah konsep ilmu matematika, sains, dan bahasa.


2. Mahasiswa biasa membawa laptop atau tabletnya ke kampus, alih-alih buku. Lembaga-lembaga pendidikan banyak yang sudah dilengkapi sinyal wi-fi. Sekelompok anak di daerah miskin Ethiopia mendapat sumbangan 20 komputer tablet dari kelompok yang bernama One Laptop Per Child. Setelah beberapa bulan, dengan bantuan teknologi mutakhir dari komputer tablet itu mereka mampu menguasai alfabet dan bahkan mengeja beberapa kata tanpa harus pergi ke sekolah.


3.   Papan tulis hitam di kelas yang ditulisi dengan kapur, setelah berubah ke whiteboard  sekarang diganti dengan layar proyektor. Guru menyetel video atau menayangkan mind map materi dan murid memahami. Tugas yang diberikan pada murid semakin beragam, seperti membuat ringkasan materi menggunakan Powerpoint lalu mempresentasikannya dengan proyektor di depan kelas.

4.  Untuk mengumpulkan tugas, tak lagi murid menghabiskan tinta pulpen dan kertas berlembar-lembar. Guru memberitahukan alamat e-mailnya ke murid, lalu murid mengirimkan tugas ke alamat e-mail itu. Tak jarang guru memiliki alamat blog yang berisi materi, soal latihan, pengumuman, dan tugas.

5.  Guru piket atau tim penegak disiplin sekolah tak lagi perlu mengamati siswa satu persatu. Kamera CCTV bisa dipasang di beberapa spot.

     Revolusi telah dan akan terus terjadi. Harapannya kehidupan lebih baik dan mudah. Selanjutnya PR buat kita. Sudah siapkah? Semoga penerapan teknologi tepat guna dibarengi peningkatan sumber daya manusia dan penurunan tingkat keapatisan para pelaku pendidikan terhadap teknologi mutakhir.

Friday, January 4, 2013

Revolusi Baru untuk Pembelajaran Maksimal


Perkembangan teknologi yang pesat khususnya di bidang informasi dan komunikasi sangat berperan penting dalam memudahkan aktivitas kehidupan manusia. Misalnya di dunia pendidikan. 

Berbagai inovasi baru telah diciptakan untuk mendukung kemajuan dunia pendidikan. Teknologi pembelajaran yang banyak digunakan adalah LCD proyektor. Perusahaan tersukses di pasar proyektor telah memasarkan produk terbarunya dengan teknologi 3LCD yaitu EB-455Wi. 

EB-455Wi hanya memerlukan jarak kurang lebih 7 cm dari dinding sehingga tidak ada bayangan guru terlihat pada layar. EB-455Wi dilengkapi oleh pena infra red digital yang dapat digunakan untuk menulis dan menggambar. Proyektor akan secara langsung menampilkan hasilnya pada layar.

Perbandingan proyektor lain dengan EB-455Wi (sumber : http://ictfiles.com/)

Tulisan atau gambar tersebut dapat disimpan dalam soft file, sehingga murid tidak akan ketinggalan penjelasan guru. EB-455Wi juga dilengkapi dengan penguat suara sebesar 12 watt.

EB-455Wi adalah salah satu solusi yang membawa dunia pendidikan kepada sistem belajar interaktif dalam kelas dimana murid dan guru dapat dengan nyaman melakukan pembelajaran di dalam kelas. Konsentrasi murid akan selalu fokus kepada penjelasan guru yang menggunakan teknologi proyektor ini. Selain itu, keuntungan lain yang bisa didapatkan adalah penghematan kapur atau spidol.

Harga yang mahal tentu akan sebanding dengan hasil yang akan diperoleh nanti. Namun, guru harus bisa beradapatasi dengan cara mengajar yang menggunakan proyektor ini agar kenyamanan dan konsentrasi murid tidak berkurang. Profesionalisme sangat dibutuhkan untuk mencapai proses pembelajaran yang maksimal.