Showing posts with label TK-SD. Show all posts
Showing posts with label TK-SD. Show all posts

Monday, January 7, 2013

Awas, Gadget untuk Anak!


Peran baby sitter sering diandalkan oleh sebagian besar orang tua yang memiliki kehidupan di kota dan sibuk bekerja, khususnya para ibu yang berkarir. Biasanya, baby sitter itu kurang memedulikan baik buruk fasilitas untuk anak asuhannya. Misalnya, jika pada saat balita menangis, kebanyakan baby sitter akan memberikan mainan untuk menenangkannya. Namun sayangnya mainan itu biasa berupa ponsel atau gadget yang kurang pantas dipegang balita. Gadget-gadget itu membuat si balita ketagihan dengan gambar dan musik yang menarik. Dia akan betah berlama-lama dengan gadgetnya dan tidak sempat mempelajari hal lain.

Sebenarnya ponsel tersebut hanya digunakan untuk memainkan lagu atau bermain game saja. Sekilas tampak tidak berbahaya. Namun sebenarnya ada dampak negatif yang mengiringinya. Tak ampun-ampun, efek sampingnya mengenai edukasi balita. Padahal lima tahun pertama manusia adalah saat terpenting yang akan memengaruhi perkembangan otak balita di masa depannya. Lalu apa bahaya penggunaan gadget seperti ponsel dan laptop itu?

Terlalu lama memainkan gadget, bahaya bagi balita (sumber : http://data.tribunnews.com/)
Selain radiasi dari gadget yang tinggi, perlu diwaspadai juga lambatnya perkembangan psikomotorik. Dikutip dari liputan6.com, sebuah studi baru menemukan jumlah anak-anak dengan kesulitan berbicara telah melonjak drastis sebanyak 70 persen dalam waktu enam tahun ini. Yang disalahkan atas meningkatnya jumlah ini adalah penggunaan gadget nyaman yang diberikan terlalu dini oleh para orangtua. Selain itu, kecenderungan orangtua yang bekerja keras dan menghabiskan waktu lebih sedikit dengan anak-anaknya. Teknologi termasuk televisi, playstation, smartphone, dan komputer, semakin banyak dipergunakan oleh anak-anak di waktu senggang.

Tak bisa dipungkiri, penggunaan gadget untuk balita mengurangi frekuensi komunikasi dengan orangtua. Akibatnya, timbul juga sikap acuh tak acuh akan kondisi sekitar. Hal ini buruk untuk proses sosialisasi anak. Berbeda sekali dengan saya atau generasi sebelum saya. Di usia balita, saya sering bermain dengan kakak dan teman-teman, dan berbicara dengan orangtua tentang apa saja. Bayangkan, betapa mengenaskan jika seorang manusia tidak memiliki kenangan yang indah dengan orangtuanya, meski di masa balita. Kasihan. Jangan sampai generasi penerus kita nanti seburuk itu.

Bagi para orangtua, disarankan untuk memperbanyak waktu bersama sang anak, setidaknya di lima tahun pertamanya. Selain itu, sebaiknya balita dibiarkan bersosialisasi dengan lingkungan sekitar yang baik. Orangtua hendaknya juga lebih selektif memberikan mainan ke balita.

Saturday, January 5, 2013

Teknologi, Revolusioner Wajah Pendidikan


Revolusi besar-besaran  terjadi di dunia pendidikan seiring berkembangnya teknologi di negeri ini. Motto “Dengan Teknologi, Hidup Menjadi Lebih Mudah” diterapkan untuk memudahkan proses belajar mengajar di sekolah-sekolah. Bahkan di kampung sekalipun, para siswa mulai dikenalkan teknologi informasi sejak di sekolah dasar. Jika melihat ke sekolah dan mencoba membandingkan dengan beberapa tahun lalu banyak perubahan yang terjadi. Berikut ini bukti nyata revolusi teknologi itu. 

Dengan Teknologi, Hidup Menjadi Lebih Mudah (sumber: tensa.alamfay.com)

1.  Sistem administrasi sekolah lebih mudah dikelola dengan komputerisasi. Fungsi pengetikan beralih dari mesin ketik ke komputer. Jenis komputer yang digunakan pun canggih. Pemerintah memberikan bantuan Personal Computer (PC) ke sekolah-sekolah di pelosok. Menurut beberapa sumber, disebutkan di Balikpapan, Kalimantan Timur, IBM (Internastional Business Machines) memberikan bantuan berupa empat IBM Kidsmart Young Explorer dalam rupa unit komputer berikut software beserta meja dan kursi anak-anak Little Tikes warna-warni. Komputer itu diletakkan di perpustakaan nasional Balikpapan. Software yang ada disebutkan dapat membantu anak-anak mempelajari dan menjelajah konsep ilmu matematika, sains, dan bahasa.


2. Mahasiswa biasa membawa laptop atau tabletnya ke kampus, alih-alih buku. Lembaga-lembaga pendidikan banyak yang sudah dilengkapi sinyal wi-fi. Sekelompok anak di daerah miskin Ethiopia mendapat sumbangan 20 komputer tablet dari kelompok yang bernama One Laptop Per Child. Setelah beberapa bulan, dengan bantuan teknologi mutakhir dari komputer tablet itu mereka mampu menguasai alfabet dan bahkan mengeja beberapa kata tanpa harus pergi ke sekolah.


3.   Papan tulis hitam di kelas yang ditulisi dengan kapur, setelah berubah ke whiteboard  sekarang diganti dengan layar proyektor. Guru menyetel video atau menayangkan mind map materi dan murid memahami. Tugas yang diberikan pada murid semakin beragam, seperti membuat ringkasan materi menggunakan Powerpoint lalu mempresentasikannya dengan proyektor di depan kelas.

4.  Untuk mengumpulkan tugas, tak lagi murid menghabiskan tinta pulpen dan kertas berlembar-lembar. Guru memberitahukan alamat e-mailnya ke murid, lalu murid mengirimkan tugas ke alamat e-mail itu. Tak jarang guru memiliki alamat blog yang berisi materi, soal latihan, pengumuman, dan tugas.

5.  Guru piket atau tim penegak disiplin sekolah tak lagi perlu mengamati siswa satu persatu. Kamera CCTV bisa dipasang di beberapa spot.

     Revolusi telah dan akan terus terjadi. Harapannya kehidupan lebih baik dan mudah. Selanjutnya PR buat kita. Sudah siapkah? Semoga penerapan teknologi tepat guna dibarengi peningkatan sumber daya manusia dan penurunan tingkat keapatisan para pelaku pendidikan terhadap teknologi mutakhir.