Showing posts with label Guru. Show all posts
Showing posts with label Guru. Show all posts

Monday, January 7, 2013

Sepuluh Triliun, Salah Jalan?


Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) mengeluarkan anggaran yang begitu besar untuk menjalankan kurikulum baru. Dikutip dari Okezone.com, salah satu anggaran yang disediakan adalah untuk pengadaan buku yang mencapai Rp 10 triliun. Namun, dana untuk pelatihan guru tidak dianggarkan.

Rasanya kurang seimbang. Pemerintah terlalu mengutamakan fasilitas-fasilitas saja tanpa memperkaya sumber daya manusia. Sudah begitu, dana sebesar itu hanya untuk buku. Di era modern ini, tidak cukup jika hanya mengandalkan buku.
Anggaran terlalu banyak untuk buku bertumpuk-tumpuk

Peralihan dari metode tradisional yang klasik menuju sistem modern dengan teknologi menuntut respon positif dari pelaku pendidikan. Di sini guru yang disorot sebagai pihak yang paling bertanggungjawab. Kurangnya pemahaman guru akan teknologi informasi sedikit banyak menghambat proses pembelajaran. Banyak ditemukan terutama di pedesaan, murid jauh lebih paham terhadap internet daripada gurunya. Padahal lebih baik andai mereka memanfaatkan internet secara optimal di bidang pendidikan, dengan bimbingan guru. Kalau tidak, bisa-bisa salah jalur. Contohnya saja seperti yang marak terjadi, pelajar menjadi korban penyalahgunaan internet. Jika guru gagap teknologi (gaptek), pendidikan Indonesia akan terus-menerus stagnan. 

Solusinya sudah jelas. Lebih baik jika besarnya dana yang membelalakkan mata itu dialokasikan untuk memeratakan pendirian tower-tower komunikasi. Diharapkan sinyal akan mudah dijangkau hingga perbatasan antar negara sekalipun. Sehingga dari Sabang sampai Merauke, dari Timor sampai ke Talaud, kita bisa mengakses internet. Beribu-ribu buku yang sebelumnya menjadi objek penganggaran dana sebesar 10 triliun dijadikan e-book yang kemudian didistribusikan melalui e-mail ke seluruh Indonesia. Keuntungan lain : penghematan kertas.
Setelah pengalokasian dana untuk internet, adakanlah pelatihan-pelatihan bagi guru-guru. Guru pun tidak boleh berpemikiran kuno. “Long Life Learning”. Waktu terus berjalan, zaman juga senantiasa berganti. Jika pemikiran tidak mengikuti, akibatnya guru-guru gaptek akan terus ada. Hal itu tidak sepantasnya terjadi. Semua usaha itu tidak lain tidak bukan adalah untuk meningkatkan pendidikan bangsa. Dengan sumber daya yang lengkap, niscaya proses pembelajaran akan berhasil sedikit demi sedikit.

Sepuluh triliun rupiah terdengar begitu mahal. Maka dari itu pengalokasiannya tidak boleh salah jalan. Memang rumit membayangan langkah-langkah penganggaran dana di atas. Namun lebih baik dimulai sekarang daripada menunggu nanti yang tak berbatas waktu.

Sunday, January 6, 2013

UKG Online, Solusi Pemerintah?


Masalah terbesar pendidikan terbesar di Indonesia adalah kualitas guru yang masih rendah. Entah apa yang sedang direncanakan pemerintah melihat kondisi pendidikan saat ini, namun pada kenyataannya pemerintah tampaknya tidak serius dalam menangani masalah pendidikan.

Dari sumber Republika Online yang memberitakan tentang peningkatan kualitas guru, telah dilakukan survei oleh Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) terhadap guru-guru di 29 daerah di Indonesia. Dari survei itu, didapatkan data bahwa 62 persen guru SD tidak pernah ikut pelatihan bahkan sampai menjelang pensiun.

Pelaksanaan UKG belum diiringi sarana dan prasarana yang baik (sumber : http://www.analisadaily.com/)

Minimnya pelatihan ini menunjukkan bahwa pemerintah tidak memikirkan peningkatan kualitas guru. Di tahun 2012, pemerintah melakukan Uji Kompetensi Guru (UKG) untuk meningkatkan mutu guru. Namun dalam pelaksanaannya yang dilakukan secara online banyak menimbulkan permasalahan terutama bagi guru yang berada di pelosok. Kurangnya pengetahuan tentang teknologi dan terbatasnya koneksi internet menjadi masalah utama.

Niat baik pemerintah ini sebaiknya juga selaras dengan persiapan sebelum dan pelaksanaannya. Pelatihan mengenai penggunaan komputer dan internet bagi guru-guru terutama yang berada di pedalaman sangat dibutuhkan agar dapat memperoleh hasil yang maksimal. Sementara masalah koneksi internet, Balai Penyedia dan Pengelola Pembiayaan Telekomunikasi dan Informatika (BP3TI) menargetkan pada tahun 2014 seluruh daerah di Indonesia sudah bisa mengakses internet. Hal ini menunjukkan bahwa UKG online yang telah dilakukan pemerintah sejak Agustus 2012 kemarin belum siap secara operasional keseluruhan.
Pemanfaatan teknologi internet oleh pemerintah untuk pelaksanaan Uji Kompetensi Guru tentu hal yang sangat baik dan bermanfaat jika sarana dan prasarana yang dibutuhkan tersedia dengan baik. Serta menjadi potensi bagi kualitas guru menjadi lebih meningkat.

Saturday, January 5, 2013

Teknologi, Revolusioner Wajah Pendidikan


Revolusi besar-besaran  terjadi di dunia pendidikan seiring berkembangnya teknologi di negeri ini. Motto “Dengan Teknologi, Hidup Menjadi Lebih Mudah” diterapkan untuk memudahkan proses belajar mengajar di sekolah-sekolah. Bahkan di kampung sekalipun, para siswa mulai dikenalkan teknologi informasi sejak di sekolah dasar. Jika melihat ke sekolah dan mencoba membandingkan dengan beberapa tahun lalu banyak perubahan yang terjadi. Berikut ini bukti nyata revolusi teknologi itu. 

Dengan Teknologi, Hidup Menjadi Lebih Mudah (sumber: tensa.alamfay.com)

1.  Sistem administrasi sekolah lebih mudah dikelola dengan komputerisasi. Fungsi pengetikan beralih dari mesin ketik ke komputer. Jenis komputer yang digunakan pun canggih. Pemerintah memberikan bantuan Personal Computer (PC) ke sekolah-sekolah di pelosok. Menurut beberapa sumber, disebutkan di Balikpapan, Kalimantan Timur, IBM (Internastional Business Machines) memberikan bantuan berupa empat IBM Kidsmart Young Explorer dalam rupa unit komputer berikut software beserta meja dan kursi anak-anak Little Tikes warna-warni. Komputer itu diletakkan di perpustakaan nasional Balikpapan. Software yang ada disebutkan dapat membantu anak-anak mempelajari dan menjelajah konsep ilmu matematika, sains, dan bahasa.


2. Mahasiswa biasa membawa laptop atau tabletnya ke kampus, alih-alih buku. Lembaga-lembaga pendidikan banyak yang sudah dilengkapi sinyal wi-fi. Sekelompok anak di daerah miskin Ethiopia mendapat sumbangan 20 komputer tablet dari kelompok yang bernama One Laptop Per Child. Setelah beberapa bulan, dengan bantuan teknologi mutakhir dari komputer tablet itu mereka mampu menguasai alfabet dan bahkan mengeja beberapa kata tanpa harus pergi ke sekolah.


3.   Papan tulis hitam di kelas yang ditulisi dengan kapur, setelah berubah ke whiteboard  sekarang diganti dengan layar proyektor. Guru menyetel video atau menayangkan mind map materi dan murid memahami. Tugas yang diberikan pada murid semakin beragam, seperti membuat ringkasan materi menggunakan Powerpoint lalu mempresentasikannya dengan proyektor di depan kelas.

4.  Untuk mengumpulkan tugas, tak lagi murid menghabiskan tinta pulpen dan kertas berlembar-lembar. Guru memberitahukan alamat e-mailnya ke murid, lalu murid mengirimkan tugas ke alamat e-mail itu. Tak jarang guru memiliki alamat blog yang berisi materi, soal latihan, pengumuman, dan tugas.

5.  Guru piket atau tim penegak disiplin sekolah tak lagi perlu mengamati siswa satu persatu. Kamera CCTV bisa dipasang di beberapa spot.

     Revolusi telah dan akan terus terjadi. Harapannya kehidupan lebih baik dan mudah. Selanjutnya PR buat kita. Sudah siapkah? Semoga penerapan teknologi tepat guna dibarengi peningkatan sumber daya manusia dan penurunan tingkat keapatisan para pelaku pendidikan terhadap teknologi mutakhir.

Friday, January 4, 2013

Revolusi Baru untuk Pembelajaran Maksimal


Perkembangan teknologi yang pesat khususnya di bidang informasi dan komunikasi sangat berperan penting dalam memudahkan aktivitas kehidupan manusia. Misalnya di dunia pendidikan. 

Berbagai inovasi baru telah diciptakan untuk mendukung kemajuan dunia pendidikan. Teknologi pembelajaran yang banyak digunakan adalah LCD proyektor. Perusahaan tersukses di pasar proyektor telah memasarkan produk terbarunya dengan teknologi 3LCD yaitu EB-455Wi. 

EB-455Wi hanya memerlukan jarak kurang lebih 7 cm dari dinding sehingga tidak ada bayangan guru terlihat pada layar. EB-455Wi dilengkapi oleh pena infra red digital yang dapat digunakan untuk menulis dan menggambar. Proyektor akan secara langsung menampilkan hasilnya pada layar.

Perbandingan proyektor lain dengan EB-455Wi (sumber : http://ictfiles.com/)

Tulisan atau gambar tersebut dapat disimpan dalam soft file, sehingga murid tidak akan ketinggalan penjelasan guru. EB-455Wi juga dilengkapi dengan penguat suara sebesar 12 watt.

EB-455Wi adalah salah satu solusi yang membawa dunia pendidikan kepada sistem belajar interaktif dalam kelas dimana murid dan guru dapat dengan nyaman melakukan pembelajaran di dalam kelas. Konsentrasi murid akan selalu fokus kepada penjelasan guru yang menggunakan teknologi proyektor ini. Selain itu, keuntungan lain yang bisa didapatkan adalah penghematan kapur atau spidol.

Harga yang mahal tentu akan sebanding dengan hasil yang akan diperoleh nanti. Namun, guru harus bisa beradapatasi dengan cara mengajar yang menggunakan proyektor ini agar kenyamanan dan konsentrasi murid tidak berkurang. Profesionalisme sangat dibutuhkan untuk mencapai proses pembelajaran yang maksimal.